Ini Kata Taprof Lemhannas RI Tentang Buku 100 Anak Tambang Indonesia

 


 ***


Namanya Putut Prabantoro, mantan wartawan Kompas yang pernah bertugas di Timor Leste. Suka ngoceh dan melucu. Tapi kalau bicara soal ketahanan pangan, ekonomi Pancasila dan nasionalisme ia serius dan menggebu-gebu. Kami seangkatan di program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXI-TA 2017 Lemhannas RI.  Putut utusan dari Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), saya dari unsur tokoh masyarakat Sulawesi Utara. Kami hanya segelintir orang sipil yang ikut terselip di antara para perwira tinggi dan pemimpin hebat di Republik Indonesia. Sayangnya Putut tak terpilih ikut rombongan kami ke Istana negara.  

"Isi paper jangan ketinggalan lo, Mas?”  

“Siaap?”

Putut memang suka melucu. Dia tidak pergi, tetapi dialah biang tersebarnya berita kami bertemu Presiden Jokowi ke berbagai media. Bersama anggota Tim Kajian Ketahanan Pangan Nasional (TKKPN) Lemhannas RI, saya terlibat penyusunan 5 poin usulan terkait pangan kepada pemerintah. Kelima poin tersebut adalah Lahan Pangan (food estate), perlu dimiliki integrated big data, Tata Kelola Pangan (food governance) diperlukannya Project Management Office (PMO) yang bertanggung jawab terhadap orkestrasi secara menyeluruh, Budaya Pertanian (agriculture) transformasi organisasi petani, pemanfaatan lahan termasuk di dalamnya proteksi alih fungsi lahan, inventarisasi lahan pertanian melalui big data, dan menyediakan SDM terampil. Baca selengkapnya dengan cara order di sini 

(Dikutip dari hal. 26 Buku 100 Anak Tambang Indonesia, yang diceritakan oleh Edi Permadi dalan tulisan yang berjudul: Kilau Emas di Tengah Badai Covid-19)

Related stories